Kaum Pembela
Baca judulnya udah ketebak neh arah pembicaraan kita pasti ke “pengacara”, tapi maksud gw bukan pembela yang beracara di pengadilan, tapi ke orang² yang akhir² ini ngaku sebagai pembela, entah itu ngakunya pembela rakyat, pembela agama atau apapun istilah yang mereka pakai.
Nggak tau mulai dari kapan bermunculan ide² seperti ini, sepertinya jaman sekarang semuanya punya pembela, seakan-akan dunia ini penuh dengan kaum yang berkuasa yang siap untuk menindas yang lemah, sehingga hampir segala sesuatunya itu butuh untuk di bela.
Bukan hanya manusianya, tapi sudah lebih berkembang lagi pembelaan itu terhadap pekerjaan, agama, sosial nya dan hal² yang sampai² nggak masuk di akal lagi.
Aneh nya para pembela ini semakin saja bermunculan, apa ini suatu trend?
Yang keluar batasnya ... kadang kaum ini bertindak mengatasnamakan suatu komunitas sosial yang sama sekali tidak ada license dari komunitas tersebut.
Sebenarnya hal ini sudah sangat meresahkan (menurut saya), tokh kita nggak perlu nunggu dulu akibat² fatal yang bakal terjadi nantinya, kita kan bisa membatasi sejauh mana mereka bisa mengatasnamakan suatu komunitas sosial tanpa harus bertindak brutal dan diberi kelonggaran karena mereka membawa nama suatu komunitas sosial besar.
Ujung² nya kita jadi bertanya² ... kemana seh para penegak hukum kita? Kok jadi orang² yang nggak berkompeten yang nangani masalah² sosial di masyarakat?
Siapa seh sebenarnya yang harus di bela? Ukuran nya bagaimana sampai sesuatu itu harus mendapat pembelaan, kalaupun ada organisasi tentang “pembelaan” terhadap sesuatu hal ... organisasi itu juga kan perlu izin (secara tertulis) untuk melakukan aksi nya (begitu kan seharusnya?).
Kenyataan nya? .... nggak seperti itu, sangat² jauh dari ideal nya, walaupun memang ada organisasi yang betul² membela komunitas nya dan juga legal.
Mudah²an ini Cuma sekedar TREND yang hidup Cuma dalam hitungan 1 digit tahun. Kalau misalnya ini bukan sekedar trend? Maka siap² saja kita akan terkotak².
Friday, September 30, 2005
Wednesday, September 28, 2005
Buat apa menulis?
Buat apa menulis?
Menulis tentang kejadian yang kita alami se hari² (seperti nulis diary) kebanyakan orang menganggap hal itu kampungan (lol) atau nggak orang itu pastinya cengeng atau nggak orang itu kewanitaan (emang nya ada kata kewanitaan? Lol)…. ha ha ha ha ha.
Coba deh perhatikan di dunia nyata, berapa orang cowok seh yang punya diary? Walaupun bukan untuk curhat doang, tapi ... jarang banget orang mau menuliskan kisah hidup nya diatas kertas.
Nggak tau kenapa, tapi dari segi agama malah memberikan contoh sama kita untuk rajin menulis, bahkan kisah² yang umurnya udah ribuan tahun bisa kita baca kembali karena ada yang mau menulis nya.
Kalau seumpama kita nggak mulai mendokumentasikan kejadian² sekarang dengan menulis, trus kira² neh, apa jadinya anak cucu kita di 300 tahun mendatang?
Mungkin mereka nggak bakal tau lagi apa yang kita lakukan sekarang, seperti tau nya kita apa yang nenek moyang kita kerjakan pada jaman Nabi dulu.
Atau mungkin salah satu faktor yang membuat kita menulis adalah Privacy, sepertinya nggak pantas kalau kita menceritakan apa yang terjadi dengan diri kita kepada orang asing.
Kemaren ... gw sempat liatin blog gw sama temen, tanggapan nya? Blog gw ga dilihat sama dia hahahahaha, gw senewen dong, tapi pass gw inget hal diatas gw langsung berpikir kalau temen gw tuh salah satu dari orang yang gw maksud diatas.
Hmmm, heran yah, kalau di luar negeri sana, orang bisa kaya karena menulis doang, padahal yang ditulisnya hal² yang simple, kata orang kita mah “sepele” seperti : “bagaimana membangkitkan semangat untuk hidup” atau “membuat keluarga lebih erat dengan puding hati lapis kaca” hahahahaha.
Maksud gw gini lho..., dengan menulis kita bisa lebih jujur, lebih berani, lebih kreatif, lebih aman, pokoknya lebih banyak bicara secara lisan, dengan menulis kita diajarin mendetail, berpikir sebelum memperlihatkan tulisan kita ke orang lain, gampang di hapus kalau menurut kita kata itu akan menyinggung perasaan orang lain, lebih ekspresif karena kita bisa menggunakan kata² yang tidak bisa di ungkapkan dengan mimik.
Sekarang tanya diri anda sendiri ... Buat apa menulis?
Menulis tentang kejadian yang kita alami se hari² (seperti nulis diary) kebanyakan orang menganggap hal itu kampungan (lol) atau nggak orang itu pastinya cengeng atau nggak orang itu kewanitaan (emang nya ada kata kewanitaan? Lol)…. ha ha ha ha ha.
Coba deh perhatikan di dunia nyata, berapa orang cowok seh yang punya diary? Walaupun bukan untuk curhat doang, tapi ... jarang banget orang mau menuliskan kisah hidup nya diatas kertas.
Nggak tau kenapa, tapi dari segi agama malah memberikan contoh sama kita untuk rajin menulis, bahkan kisah² yang umurnya udah ribuan tahun bisa kita baca kembali karena ada yang mau menulis nya.
Kalau seumpama kita nggak mulai mendokumentasikan kejadian² sekarang dengan menulis, trus kira² neh, apa jadinya anak cucu kita di 300 tahun mendatang?
Mungkin mereka nggak bakal tau lagi apa yang kita lakukan sekarang, seperti tau nya kita apa yang nenek moyang kita kerjakan pada jaman Nabi dulu.
Atau mungkin salah satu faktor yang membuat kita menulis adalah Privacy, sepertinya nggak pantas kalau kita menceritakan apa yang terjadi dengan diri kita kepada orang asing.
Kemaren ... gw sempat liatin blog gw sama temen, tanggapan nya? Blog gw ga dilihat sama dia hahahahaha, gw senewen dong, tapi pass gw inget hal diatas gw langsung berpikir kalau temen gw tuh salah satu dari orang yang gw maksud diatas.
Hmmm, heran yah, kalau di luar negeri sana, orang bisa kaya karena menulis doang, padahal yang ditulisnya hal² yang simple, kata orang kita mah “sepele” seperti : “bagaimana membangkitkan semangat untuk hidup” atau “membuat keluarga lebih erat dengan puding hati lapis kaca” hahahahaha.
Maksud gw gini lho..., dengan menulis kita bisa lebih jujur, lebih berani, lebih kreatif, lebih aman, pokoknya lebih banyak bicara secara lisan, dengan menulis kita diajarin mendetail, berpikir sebelum memperlihatkan tulisan kita ke orang lain, gampang di hapus kalau menurut kita kata itu akan menyinggung perasaan orang lain, lebih ekspresif karena kita bisa menggunakan kata² yang tidak bisa di ungkapkan dengan mimik.
Sekarang tanya diri anda sendiri ... Buat apa menulis?
Wednesday, September 14, 2005
Hari Duka

INNALILAHI WAINNAILLAHI ROJIUN, Turut berduka cita atas meninggal dunia Ibu dari saudara dan sahabat Yadi, semoga arwah beliau di terima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Amin.
Kaget … reaksi gw pertama waktu di kabarin kalo Ibu nya Yadi sudah meninggal dunia, kok ga ada kabar dari Yadi kalau Ibu nya sakit. Nggak mikir banyak lagi, gw langsung brangkat ke rumahnya saat itu juga.
Suasana berduka .. sedikit sekali terlihat disitu, mungkin karena banyak faktor, nggak tau apa yang terlintas di pikiran Yadi saat itu, gw juga nggak mau membuat suasana menjadi semakin berduka.
Yang pasti saat ini gw merasa begitu dekat dengan kematian dan begitu rapat dengan kehidupan, waktu gw pendek, umur gw terbatas, sudah seharusnya gw lakuin hal² yang bermanfaat sebelum semua waktu nya habis.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sebagian cerita tentang saya, separuh ... tidak banyak.
Buat Semua ... untuk saya tinggalkan jejak jejak, sebagai tanda pergantian zaman
Buat Semua ... untuk saya tinggalkan jejak jejak, sebagai tanda pergantian zaman